Minggu, 17 Desember 2017

Cerpen Chef atau Perancis by Mira kartika

Chef Atau Perancis
Chef terkenal,sukses ditambah dengan wajah tampan. Mungkin orang akan memuja dan tidak akan menyangkal fakta tersebut. Tapi,semua orang  tidak akan tahu bahwa chef yang mereka puji itu memiliki kehidupan dan perjuangan yang sulit untuk menempuh kesuksesan. Hingga seorang wanita menghampiri hidupnya.
Malam ini,seperti biasanya Tiffany pulang selepas kerja yang sangat melelahkan ini. Mungkin semua orang akan senang dan sangat bersemangat bila jam pulang tiba tapi tidak dengan Tiffany,dia tidak bersemangat akan apapun yang dia kerjakan. Karena jarak antara kantor dengan kost-an nya tidak terlalu jauh Tiffany memilih untuk berjalan ke kost-an nya untuk menghemat uang yang ia punya. Karena menurutnya, uang yang ia hasilkan sangatlah berarti untuk diberikan kepada neneknya di kampung. Mengapa harus neneknya? Ya,karena kedua orangtuanya sudah meninggalkannya sejak ia masih kecil. Bahkan dia mengenal wajah kedua orang tuanya hanya melalui foto saja.
                                                       ***
“Ma,kan aku udah bilang kalo aku gak mau” ucap Julian dengan geram. “Tapi sayang.. ini untuk kebaikan kamu,mama ingin kamu memilih dengan benar” balas sang mama. “Ma aku udah dewasa,aku sendiri yang akan memilih masa depanku” bantah Julian. “Mama gak mau mendengar alasan kamu lagi Julian..apapun itu,kamu harus tetap menghadiri makan malam hari ini”. “nanti mama sms kamu dimana tempatnya” lanjut ibu cantik itu dan berlalu meninggalkan anaknya yang masih kesal mendengar perkataan ibunya. Julian menghempaskan tubuhnya kasar ke sofa miliknya ketika dia sedang berkutat dengan pikirannya,ada satu ide terlintas dipikirannya.
                                                       ***
Hari Minggu yang menyegarkan ini,Tiffany sudah bersiap untuk olahraga pagi karena hanya hari Minggu lah dia bisa beraktivitas dengan santai. Tiffany berlari dengan semangatnya sambil menghirup udara segar di acara Car Free Day ini. Dan acara ini hanya diselenggerakan di hari Minggu. Bruk...aw... Tiffany terjatuh dengan luka di telapak tangan dan lututnya. “maaf maaf aku sedang terburu-buru” ucap seseorang dengan tangan yang terulur bermaksud membantu Tiffany. “YA!! Apa kau tidak punya mata? Huh!! Lihat ini badanku terluka dan kau haru bertanggung jawab atas perlakuanmu itu!” tutur Tiffany kesal. “baiklah kau minta berapa duit?” balas Julian. Ya,pria itu adalah Julian chef terkenal yang tidak dikenal Tiffany. Tiffany berpikir sejenak sambil menatap wajah Julian yang menurutnya cowok tajir itu. “500 ribu” ucap Tiffany santai. “Ya!! Kau gila apa?” Julian mengedarkan pandangan di sekitarnya. “baiklah” Julian merogoh kantong celananya ternyata dia tidak membawa dompetnya. “cewek cerewet! dompetku tertinggal di mobil ikutlah denganku”. Tanpa persetujuan dari Tiffany,Julian membopong tubuh Tiffany dengan cepat. Tiffany meronta-ronta dan terus meminta diturunkan. Tapi apadaya usahanya hanya sia-sia karena kekuatan Julian lebih kuat darinya.
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil Julian. Julian langsung menancap gas. Hening itulah suasana di dalam mobil Julian. “siapa namamu?” ucap Julian memecah keheningan. “Tiffany” balas sang lawan bicara. “oke Mrs. Tiffany aku akan mengobati lukamu,setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang”  tutur Julian. “Tapi,kita akan kemana? Apa kau akan menculikku,mencabuliku lalu membuangku” ucap Tiiffany dengan tatapan tajam. “aish..apa mukaku terlihat seperti penjahat? Huh!! Aku akan pergi ke restoku untuk mengobatimu,bodoh!!” ucap Julian sedikit kesal. “oh..baiklah” Tiffany kembali menatap lurus ke depan.
                                                     ***
“Nah..udah selesai diobati,aku akan ke atas sebentar” ucap Julian berlalu dan hanya dibalas anggukan saja. Julian menuju kamarnya di atas. Memang restauran milik Julian ini memliki 2 kamar di lantai 2. Satu untuk Julian dan yang lainnya untuk pegawainya yang ingin beristirahat. Julian berganti pakaian dan sedikit bercermin,lalu dia mendapatkan sebuah ide. Dia pun bergegas ke lantai bawah. “Tiffany” panggil Julian karena dia tidak melihat gadis itu di tempat tadi. Akhirnya kedua mata Julian menangkap sosok Tiffany berada di dapur restaurannya sedang melihat adonan roti gagal yang di buat Julian.
“kau sedang apa?”
“oh astaga..kau mengagetkanku saja,hmm..ini aku hanya melihat adonan roti ini,sayang sekali jika dibuang”
“apa kau bisa membuat roti yang enak?”
“aku gak terlalu yakin jika rasanya enak’
“cobalah membuatnya aku ingin merasakan roti buatanmu”
“tak apa jika aku memakai bahan di restauranmu?”
“tentu pakailah sesukamu”
Tiffany mulai membuat roti dan Julian duduk memperhatikan dengan teliti. Mereka mengobrol bersama saling bertukar cerita. Diantara obrolan mereka Julian terkejut bahwa Tiffany tidak mengenal bahwa ia adalah Chef terkenal. Tapi itu membuatnya senang karena dengan begitu Tiffany mengenalnya bukan karena statusnya. Tak terasa dari obrolan panjang mereka ternyata roti buatan Tiffany sudah siap disantap. Setelah itu Julian mencicipi roti buatan Tiffany. Tiffany menunggu jawaban Julian dengan tatapan khawatir. “hmm...enak,bagaimana bisa kau membuat roti seempuk ini?” respon Julian. “aku mempelajarinya dari nenekku dan sedikit belajar dari internet” balas Tiffany. “maukah kamu mengajariku cara membuatnya?” pinta Julian. “Baiklah” balas Tiffany dengan senyum hangatnya.
            Bagaimana dengan lukamu Tiffany? “Tanya Julian dengan makanan yang penuh didalam mulutnya. “Aih… kau jorok sekali. Telan dulu makananmu!! Lihat ini ! Aku terkena semburan makananmu itu! Oh astaga“ gerutu Tiffany dan yang diajak bicarapun hanya cengengesan saja, “oh ya Tiffany ada yang ingin aku bicarakan denganmu” ucap Julian setelah selesai menyantap semua makanannya. “apa?” Tanya Tiffany dengan penuh rasa ingin tau. “Apakah kamu bersedia menjadi pacar sewaanku?” . “untuk apa?!” Tiffany sedikit kaget Julian pun mulai bercerita tentang dirinya yang dijodohkan oleh mamanya itu. “oh… jadi begitu” ucap Tiffany ber-oh ria. “Yap, jadi apakah kamu mau? Tenang saja bayarannya lumayan lah untukmu“ bujuk Julian yang menaik-turunkan alisnya. “hmm.. baiklah, awas ya jika bayarannya tidak pas” ucap Tiffany menyetujui “baiklah, ayo kuantar kau pulang” ajak Julian dengan senyum bahagia dan tanpa sadar tangan Julian menggandeng tangan Tiffany membuat sang pemilik kaget.
            “Yeay… kita sudah sampai”
            “Oh ya Tiffany” mencegah Tiffany yang ingin segera keluar.
            “Kenapa ?”
            “Besok kita akan makan siang dengan orangtuaku. Nanti kujemput, oke?”
            “Oke” Tiffany mengacungkan jempolnya.
***
“Jadi, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?” Tanya sang mama “baru ma, kami baru 2 minggu berpacaran” balas Julian. “apa orangtuamu sudah tau tentang hubungan kalian?” Tanya papa Julian kepada Tiffany, “hmm…” Tiffany menunduk. “Orang tua Tiffany sudah tiada pa” Julian yang membalas pertanyaan papanya tersebut. “Oh, maafkan saya ya sungguh saya tidak tau” ucap sang papa menyesal. “Tidak apa-apa om” Tiffany tersenyum untuk menandakan dia baik-baik saja. “eih.. panggil kami papa dan mama saja seperti Julian“ Suruh ibu Hartono dengan menggenggam tangan Tiffany “baik tan,eh ma” balas Tiffany yang disambut tawa oleh mereka.
                                                           ***
“Terimakasih ya untuk hari ini, ini bayarannya” kata Julian sambil menyodorkan selembar cek yang bertuliskan Rp.5.000.000
“Apa ini tidak terlalu banyak?”
“Tidak, itu cukup untukmu yang sudah membuat keluarga kami tertawa bersama”
“Terimakasih Julian” Tiffany tersenyum menatap Julian
“Oh ya Fany aku mendaftarkanmu di lomba memasak, tadinya temanku menyuruhku untuk menjadi juri tapi aku tidak mau” Ucap Julian santai.
“Ya!! Kenapa seenaknya saja tanpa izinku”
“Aku tau, jika aku meminta izinmu kamu tidak mau”
“Bagaimana ini aku tidak bisa memasak?”
“Tenang saja,aku akan mengajarimu,sekarang turunlah untuk istirahat besok ku jemput kau setelah pulang kerja” ucap Julian mengedipkan sebelah matanya membuat Tiffany tersipu malu.
 ***
            Mereka pun terus belajar memasak bersama,kedekatan mereka pun semakin bertambah karena sudah 7 hari lebih mereka bersama. Hingga hari perlombaan masak pun tiba. Tiffany membuat “Lemon Brownies with coconut topping”. Karena menurutnya brownis ini membutuhkan bahan yang mudah dicari. Dengan brownisnya Tiffany mendapatkan sertifikat masak.
            “kita akan segera mengumumkan 3 pemenang yang akan mendapatkan hadiah utama” pembawa acara itu membuat para peserta deg-degan. “Juara ketiga Tiffany,juara kedua Sera dan Juara pertama Roni” Tiffany dan Julian pun terkejut karena niat awal mereka bukan untuk memenangkan perlombaan ini. Ternyata hadiah dari juara 3 adalah hadiah uang sebesar 2 juta rupiah dan beasiswa untuk belajar memasak di luar negeri yaitu Perancis. Sebenarnya Tiffany senang dengan hadiah yang ia terima tapi dia sedikit kecewa karena harus meninggalkan Julian yang ternyata dia sudah memendam rasa kepada Julian.
            “hey..selamat” ucap Julian memberi selamat dan mengulurkan tangan kepada Tiffany. Tiffany ragu-ragu menerima sambutan Julian. “terimakasih jul” tangan Tiffany akhirnya menyambut balik tangan Julian. “Jul.. aku mendapat beasiswa ke luar negeri” tutur Tiffany dengan senyum ragu kepada Julian. Julian yang mendengar,diam sejenak. Julian tersentak akan ucapan Tiffany. Lalu,Julian tersenyum “wow.. bagus sekali fany,lalu bersiaplah untuk beasiswamu itu”. Tiffany terdiam,berpikir apa yang harus ia lakukan degan beasiswanya itu. Julian yang mengetahui raut wajah Tiffany berubah. Julian tahu betul,perempuan yang ada di depannya ini sedang ragu. Lalu Julian mencengkram kedua bahu Tiffany untuk meyakinkan gadis tersebut. “Yakinlah Tiffany bahwa beasiswa ini baik untuk kamu”. Tiffany tersenyum,mendengar pernyataan Julian itu seperti mendapat kekuatan tersendiri baginya.
                                                                ***
Seorang wanita duduk sendiri diantara sekian banyak orang. Matanya menyusuri setiap orang yang berlalu-lalang dan terdengar isak tangis mereka menggambarkan bahwa mereka tidak ingin berpisah. Tiffany terduduk dalam bisingnya mesin pesawat saat lepas landas. Kekhawatiran dan keraguan menghantui dirinya. Ya,dia ragu untuk pergi meninggalkan Indonesia dan khawatir jika Julian tidak datang menemui dia untuk terakhir kalinya.
                                                       ***
Dan pemuda dengan nafas yang memburu terus berlari,tak perduli sudah berapa orang ia tubruk. Mata dan kepalanya terus mencari sesosok yang dia cari. Namun,hasilnya nihil. Ia terdiam dengan menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menangkan hati dan pikirannya saat ini. Tetapi tetap saja pikiran dan hatinya tidak bisa diajak kompromi. Julian melihat jadwal penerbangan pesawat 372A menuju Perancis sudah flight 5 menit yang lalu. Lalu,Julian kembali berdiri tegak berniat untuk meninggalkan tempat tersebut. “Julian!” terdengar panggilan dari sosok yang ia ingin temui pada saat ini juga. Pada saat julian berbalik,seorang gadis tiba-tiba menubruknya,memeluknya dengan erat. Julian senang mengetahui bahwa gadis itu adalah Tiffany. “Fany.. aku janji gak akan membiarkanmu pergi Tiffany,aku janji!” ucap julian masih berpelukan. Tiffany yang mendegarnya tersenyum bahagia.





                                                                                                            Tertanda



                                                                                                            Mira kartika
**Siap Menerima Kritik dan Saran**