Chef Atau Perancis
Chef terkenal,sukses ditambah dengan wajah tampan. Mungkin
orang akan memuja dan tidak akan menyangkal fakta tersebut. Tapi,semua
orang tidak akan tahu bahwa chef yang
mereka puji itu memiliki kehidupan dan perjuangan yang sulit untuk menempuh
kesuksesan. Hingga seorang wanita menghampiri hidupnya.
Malam ini,seperti biasanya Tiffany pulang selepas kerja yang
sangat melelahkan ini. Mungkin semua orang akan senang dan sangat bersemangat
bila jam pulang tiba tapi tidak dengan Tiffany,dia tidak bersemangat akan
apapun yang dia kerjakan. Karena jarak antara kantor dengan kost-an nya tidak
terlalu jauh Tiffany memilih untuk berjalan ke kost-an nya untuk menghemat uang
yang ia punya. Karena menurutnya, uang yang ia hasilkan sangatlah berarti untuk
diberikan kepada neneknya di kampung. Mengapa harus neneknya? Ya,karena kedua
orangtuanya sudah meninggalkannya sejak ia masih kecil. Bahkan dia mengenal
wajah kedua orang tuanya hanya melalui foto saja.
***
“Ma,kan aku udah bilang kalo aku gak mau” ucap Julian dengan
geram. “Tapi sayang.. ini untuk kebaikan kamu,mama ingin kamu memilih dengan
benar” balas sang mama. “Ma aku udah dewasa,aku sendiri yang akan memilih masa
depanku” bantah Julian. “Mama gak mau mendengar alasan kamu lagi Julian..apapun
itu,kamu harus tetap menghadiri makan malam hari ini”. “nanti mama sms kamu
dimana tempatnya” lanjut ibu cantik itu dan berlalu meninggalkan anaknya yang
masih kesal mendengar perkataan ibunya. Julian menghempaskan tubuhnya kasar ke
sofa miliknya ketika dia sedang berkutat dengan pikirannya,ada satu ide
terlintas dipikirannya.
***
Hari Minggu yang menyegarkan ini,Tiffany sudah bersiap untuk
olahraga pagi karena hanya hari Minggu lah dia bisa beraktivitas dengan santai.
Tiffany berlari dengan semangatnya sambil menghirup udara segar di acara Car
Free Day ini. Dan acara ini hanya diselenggerakan di hari Minggu. Bruk...aw...
Tiffany terjatuh dengan luka di telapak tangan dan lututnya. “maaf maaf aku
sedang terburu-buru” ucap seseorang dengan tangan yang terulur bermaksud
membantu Tiffany. “YA!! Apa kau tidak punya mata? Huh!! Lihat ini badanku
terluka dan kau haru bertanggung jawab atas perlakuanmu itu!” tutur Tiffany
kesal. “baiklah kau minta berapa duit?” balas Julian. Ya,pria itu adalah Julian
chef terkenal yang tidak dikenal Tiffany. Tiffany berpikir sejenak sambil
menatap wajah Julian yang menurutnya cowok tajir itu. “500 ribu” ucap Tiffany
santai. “Ya!! Kau gila apa?” Julian mengedarkan pandangan di sekitarnya.
“baiklah” Julian merogoh kantong celananya ternyata dia tidak membawa
dompetnya. “cewek cerewet! dompetku tertinggal di mobil ikutlah denganku”.
Tanpa persetujuan dari Tiffany,Julian membopong tubuh Tiffany dengan cepat.
Tiffany meronta-ronta dan terus meminta diturunkan. Tapi apadaya usahanya hanya
sia-sia karena kekuatan Julian lebih kuat darinya.
Setelah mereka berdua berada di dalam mobil Julian. Julian
langsung menancap gas. Hening itulah suasana di dalam mobil Julian. “siapa
namamu?” ucap Julian memecah keheningan. “Tiffany” balas sang lawan bicara.
“oke Mrs. Tiffany aku akan mengobati lukamu,setelah itu aku akan mengantarkanmu
pulang” tutur Julian. “Tapi,kita akan
kemana? Apa kau akan menculikku,mencabuliku lalu membuangku” ucap Tiiffany
dengan tatapan tajam. “aish..apa mukaku terlihat seperti penjahat? Huh!! Aku
akan pergi ke restoku untuk mengobatimu,bodoh!!” ucap Julian sedikit kesal.
“oh..baiklah” Tiffany kembali menatap lurus ke depan.
***
“Nah..udah selesai diobati,aku akan ke atas sebentar” ucap
Julian berlalu dan hanya dibalas anggukan saja. Julian menuju kamarnya di atas.
Memang restauran milik Julian ini memliki 2 kamar di lantai 2. Satu untuk
Julian dan yang lainnya untuk pegawainya yang ingin beristirahat. Julian
berganti pakaian dan sedikit bercermin,lalu dia mendapatkan sebuah ide. Dia pun
bergegas ke lantai bawah. “Tiffany” panggil Julian karena dia tidak melihat
gadis itu di tempat tadi. Akhirnya kedua mata Julian menangkap sosok Tiffany
berada di dapur restaurannya sedang melihat adonan roti gagal yang di buat
Julian.
“kau sedang apa?”
“oh astaga..kau mengagetkanku saja,hmm..ini aku hanya melihat
adonan roti ini,sayang sekali jika dibuang”
“apa kau bisa membuat roti yang enak?”
“aku gak terlalu yakin jika rasanya enak’
“cobalah membuatnya aku ingin merasakan roti buatanmu”
“tak apa jika aku memakai bahan di restauranmu?”
“tentu pakailah sesukamu”
Tiffany mulai membuat roti dan Julian duduk memperhatikan
dengan teliti. Mereka mengobrol bersama saling bertukar cerita. Diantara
obrolan mereka Julian terkejut bahwa Tiffany tidak mengenal bahwa ia adalah
Chef terkenal. Tapi itu membuatnya senang karena dengan begitu Tiffany
mengenalnya bukan karena statusnya. Tak terasa dari obrolan panjang mereka
ternyata roti buatan Tiffany sudah siap disantap. Setelah itu Julian mencicipi roti
buatan Tiffany. Tiffany menunggu jawaban Julian dengan tatapan khawatir.
“hmm...enak,bagaimana bisa kau membuat roti seempuk ini?” respon Julian. “aku
mempelajarinya dari nenekku dan sedikit belajar dari internet” balas Tiffany.
“maukah kamu mengajariku cara membuatnya?” pinta Julian. “Baiklah” balas
Tiffany dengan senyum hangatnya.
Bagaimana dengan lukamu Tiffany?
“Tanya Julian dengan makanan yang penuh didalam mulutnya. “Aih… kau jorok
sekali. Telan dulu makananmu!! Lihat ini ! Aku terkena semburan makananmu itu!
Oh astaga“ gerutu Tiffany dan yang diajak bicarapun hanya cengengesan saja, “oh
ya Tiffany ada yang ingin aku bicarakan denganmu” ucap Julian setelah selesai
menyantap semua makanannya. “apa?” Tanya Tiffany dengan penuh rasa ingin tau.
“Apakah kamu bersedia menjadi pacar sewaanku?” . “untuk apa?!” Tiffany sedikit
kaget Julian pun mulai bercerita tentang dirinya yang dijodohkan oleh mamanya
itu. “oh… jadi begitu” ucap Tiffany ber-oh ria. “Yap, jadi apakah kamu mau? Tenang
saja bayarannya lumayan lah untukmu“ bujuk Julian yang menaik-turunkan alisnya.
“hmm.. baiklah, awas ya jika bayarannya tidak pas” ucap Tiffany menyetujui
“baiklah, ayo kuantar kau pulang” ajak Julian dengan senyum bahagia dan tanpa
sadar tangan Julian menggandeng tangan Tiffany membuat sang pemilik kaget.
“Yeay… kita sudah sampai”
“Oh ya Tiffany” mencegah Tiffany
yang ingin segera keluar.
“Kenapa ?”
“Besok kita akan makan siang dengan
orangtuaku. Nanti kujemput, oke?”
“Oke” Tiffany mengacungkan
jempolnya.
***
“Jadi, sudah berapa lama kalian
menjalin hubungan?” Tanya sang mama “baru ma, kami baru 2 minggu berpacaran”
balas Julian. “apa orangtuamu sudah tau tentang hubungan kalian?” Tanya papa
Julian kepada Tiffany, “hmm…” Tiffany menunduk. “Orang tua Tiffany sudah tiada
pa” Julian yang membalas pertanyaan papanya tersebut. “Oh, maafkan saya ya
sungguh saya tidak tau” ucap sang papa menyesal. “Tidak apa-apa om” Tiffany
tersenyum untuk menandakan dia baik-baik saja. “eih.. panggil kami papa dan
mama saja seperti Julian“ Suruh ibu Hartono dengan menggenggam tangan Tiffany
“baik tan,eh ma” balas Tiffany yang disambut tawa oleh mereka.
***
“Terimakasih
ya untuk hari ini, ini bayarannya” kata Julian sambil menyodorkan selembar cek
yang bertuliskan Rp.5.000.000
“Apa ini
tidak terlalu banyak?”
“Tidak, itu
cukup untukmu yang sudah membuat keluarga kami tertawa bersama”
“Terimakasih
Julian” Tiffany tersenyum menatap Julian
“Oh ya Fany
aku mendaftarkanmu di lomba memasak, tadinya temanku menyuruhku untuk menjadi
juri tapi aku tidak mau” Ucap Julian santai.
“Ya!! Kenapa
seenaknya saja tanpa izinku”
“Aku tau,
jika aku meminta izinmu kamu tidak mau”
“Bagaimana
ini aku tidak bisa memasak?”
“Tenang
saja,aku akan mengajarimu,sekarang turunlah untuk istirahat besok ku jemput kau
setelah pulang kerja” ucap Julian mengedipkan sebelah matanya membuat Tiffany
tersipu malu.
***
Mereka pun terus belajar memasak
bersama,kedekatan mereka pun semakin bertambah karena sudah 7 hari lebih mereka
bersama. Hingga hari perlombaan masak pun tiba. Tiffany membuat “Lemon Brownies
with coconut topping”. Karena menurutnya brownis ini membutuhkan bahan yang
mudah dicari. Dengan brownisnya Tiffany mendapatkan sertifikat masak.
“kita akan segera mengumumkan 3
pemenang yang akan mendapatkan hadiah utama” pembawa acara itu membuat para
peserta deg-degan. “Juara ketiga Tiffany,juara kedua Sera dan Juara pertama
Roni” Tiffany dan Julian pun terkejut karena niat awal mereka bukan untuk
memenangkan perlombaan ini. Ternyata hadiah dari juara 3 adalah hadiah uang
sebesar 2 juta rupiah dan beasiswa untuk belajar memasak di luar negeri yaitu
Perancis. Sebenarnya Tiffany senang dengan hadiah yang ia terima tapi dia
sedikit kecewa karena harus meninggalkan Julian yang ternyata dia sudah
memendam rasa kepada Julian.
“hey..selamat” ucap Julian memberi
selamat dan mengulurkan tangan kepada Tiffany. Tiffany ragu-ragu menerima
sambutan Julian. “terimakasih jul” tangan Tiffany akhirnya menyambut balik
tangan Julian. “Jul.. aku mendapat beasiswa ke luar negeri” tutur Tiffany
dengan senyum ragu kepada Julian. Julian yang mendengar,diam sejenak. Julian
tersentak akan ucapan Tiffany. Lalu,Julian tersenyum “wow.. bagus sekali
fany,lalu bersiaplah untuk beasiswamu itu”. Tiffany terdiam,berpikir apa yang
harus ia lakukan degan beasiswanya itu. Julian yang mengetahui raut wajah
Tiffany berubah. Julian tahu betul,perempuan yang ada di depannya ini sedang
ragu. Lalu Julian mencengkram kedua bahu Tiffany untuk meyakinkan gadis
tersebut. “Yakinlah Tiffany bahwa beasiswa ini baik untuk kamu”. Tiffany
tersenyum,mendengar pernyataan Julian itu seperti mendapat kekuatan tersendiri
baginya.
***
Seorang wanita duduk sendiri diantara sekian banyak orang.
Matanya menyusuri setiap orang yang berlalu-lalang dan terdengar isak tangis
mereka menggambarkan bahwa mereka tidak ingin berpisah. Tiffany terduduk dalam
bisingnya mesin pesawat saat lepas landas. Kekhawatiran dan keraguan menghantui
dirinya. Ya,dia ragu untuk pergi meninggalkan Indonesia dan khawatir jika
Julian tidak datang menemui dia untuk terakhir kalinya.
***
Dan pemuda dengan nafas yang memburu terus berlari,tak
perduli sudah berapa orang ia tubruk. Mata dan kepalanya terus mencari sesosok
yang dia cari. Namun,hasilnya nihil. Ia terdiam dengan menghirup oksigen
sebanyak mungkin untuk menangkan hati dan pikirannya saat ini. Tetapi tetap
saja pikiran dan hatinya tidak bisa diajak kompromi. Julian melihat jadwal
penerbangan pesawat 372A menuju Perancis sudah flight 5 menit yang lalu.
Lalu,Julian kembali berdiri tegak berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Julian!” terdengar panggilan dari sosok yang ia ingin temui pada saat ini
juga. Pada saat julian berbalik,seorang gadis tiba-tiba menubruknya,memeluknya
dengan erat. Julian senang mengetahui bahwa gadis itu adalah Tiffany. “Fany..
aku janji gak akan membiarkanmu pergi Tiffany,aku janji!” ucap julian masih
berpelukan. Tiffany yang mendegarnya tersenyum bahagia.
Tertanda
Mira
kartika
**Siap Menerima Kritik dan Saran**